[AFN] Hadits Ma’lul (Cacat) Seputar Puasa dan Ramadhan

Posted: July 29, 2010 in Fiqh Puasa & Ramadhan, Hadits, Manhaj Muhadditsin

DALAM entry kali ini, saya akan membawakan hadits-hadits yang popular dalam masyarakat kita, tetapi sebenarnya telah pun didha’ifkan oleh ulama-ulama terdahulu. Perbahasan yang lebih terperinci boleh dibaca di forum Al-Fikrah.Net [AFN] Semoga kita terselamat daripada menjadi golongan yang menyebarkan hadits-hadits dha’if dan palsu dalam masyarakat.


Oleh: Adli Khalim [Jakarta Barat, 29/07/10, 22:32]

Advertisements
Comments
  1. mrblinc says:

    Hadits 1:

    “Inilah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya adalah merupakan pembebasan dari api neraka…”

    Diriwayatkan oleh: Ibn Khuzaimah [no. 1780], Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman [no. 3455]

    Status hadits: Dinilai dha’if oleh para jamaah a’immah huffaz hadits mutaqaddimun sejak kurun 1-3 Hijrah lagi, antaranya:

    * Ibn Khuzaimah

    * Abu Hatim [dalam ‘Ilal Ibn Abi Hatim – no. 733], katanya: hadits ini mungkar.

    Sila klik: AFN

  2. mrblinc says:

    Hadits 2:

    “Sesiapa yang tidak berniat puasa sebelum waktu fajar, maka tiada puasa baginya [tidak sah puasanya].”

    Diriwayatkan oleh: Ahmad dalam Al-Musnad [no. 26500], Abu Dawud [no. 2454], At-Tirmidzi [no. 730], An-Nasai dalam Sunan Al-Kubra [no. 2640, 2641, 2643], Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra [no. 7696, 7697, 7698, 7701, 7778, 7826], Ad-Darimi [no. 1698] dan lain-lain dangan lafaz yang sedikit berbeza.

    Status hadits: Dinilai tidak shahih oleh Imam Ahmad, Al-Bukhari, At-Tirmidzi, An-Nasai, Ad-Darimi, Abu Dawud, Abu Hatim dan imam-imam hadits yang lain. Kata Ibn Hajar dalam Fathu Al-Bari [4/142]: “Berlaku khilaf tentang bersambung atau tidak hadits ini, dan yang rajih [yang lebih tepat] adalah tidak bersambung kepada Nabi (mauquf) sebagaimana tarjih At-Tirmidzi dan An-Nasai.

    Sila klik: AFN

  3. mrblinc says:

    Hadits 3:

    Doa malaikat Jibril menjelang Ramadhan: “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:
    * Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);
    * Tidak berma’afan terlebih dahulu antara suami isteri;
    * Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.”

    Status hadits: Palsu, direkacipta dengan memanipulasi dan mengubahsuai hadits yang shahih dan mengubah makna hadits shahih yang diubahsuai itu.

    Sila klik: AFN

  4. mrblinc says:

    Hadits 4:

    Makanan masih di tangan ketika azan dilaungkan

    Diriwayatkan oleh: Imam Ahmad dalam Al-Musnad, Abu Dawud dan selain kedua-duanya.

    Status hadits: Setiap satunya telah pun dijelaskan kecacatannya oleh Syaikh Ath-Tharifi.

    Sila klik: AFN

  5. mrblinc says:

    Hadits 5:

    “Ya Allah! Berkati kami pada bulan Rajab & Sya’ban, dan pertemukanlah kami dengan Ramadhan.”

    Diriwayatkan oleh: Ahmad [1/259] dan selainnya.

    Status hadits: Tidak shahih kerana tafarrudnya rawi yang bernama Zaidah bin Abi Raqad, dan dia bermasalah. Kata Al-Bukhari dan An-Nasai tentangnya: Munkaru Al-Hadits. Hadith ini juga didha’ifkan oleh Al-Baihaqi, Ibn Rajab, Ibn Hajar.

    Sila klik: AFN

  6. mrblinc says:

    Hadits 6 [a]:

    “Orang yang berpuasa itu tetap dalam ibadat meski pun ia tidur di atas kasurnya.”

    Status hadits: Dha’if. Yahya bin ‘Abdullah bin Zujaaj dan Muhammad bin Harun bin Muhammad bin Bakkar bin Hilal, biodata mereka tidak jumpai dalam kitab-kitab Rijal. Selain itu, dalam sanad hadits ini juga ada Hasyim bin Abi Hurairah Al-Himsi, seorang rawi yang majhul. Sebagaimana diterangkan oleh Adz-Dzahabi dalam kitabnya Mizanu Al-I’tidal. Kata Al-‘Uqaili: Munkarul Hadith.

    —————————————————————————————

    Hadits 6 [b]:

    “Orang yang berpuasa itu tetap dalam ibadat meski pun ia tidur di atas kasurnya.”

    Diriwayatkan oleh: Ad-Dailami.

    Status hadits: Maudhu’. Kerana ada seorang rawi yang bernama Muhammad bin Ahmad bin Suhail, dia seorang pemalsu hadith, demikian diterangkan Adz-Dzahabi dalam kitabnya, Ad-Dhua’fa.

    —————————————————————————————

    Hadits 6 [c]:

    “Tidurnya orang yang berpuasa itu dianggap ibadah, dan diamnya merupakan tasbih, dan amalnya (diberikan ganjaran) berlipat ganda, dan doanya mustajab, sedang dosanya diampuni.”

    Diriwayatkan oleh: Al-Baihaqi dalam kitabnya Syu’abu Al-Iman.

    Status hadits: Maudhu’. Dalam sanadnya ada Sulaiman bin Umar An-Nakha’i, seorang pendusta.

    —————————————————————————————

    Sila klik: AFN

  7. mrblinc says:

    Hadits 7:

    Doa ketika melihat anak bulan [hilal]

    Diriwayatkan oleh: Abu Dawud, At-Tirmidzi, Al-‘Uqaili.

    Status hadits: Dinilai dha’if oleh:

    * Abu Dawud [dalam As-Sunan], katanya: Tiada dalam bab ini hadits musnad yang shahih.

    * At-Tirmidzi, katanya: Hasan gharib

    * Al-‘Uqaili [dalam Adh-Dhu’afa], katanya: Terdapat doa ketika melihat anak bulan, isnadnya adalah dha’if, yang ini (hadith ini) yang baik bagiku antara semuanya tetapi ia merupakan layyin (lemah).

    * Al-Atsram [murid kepada Imam Ahmad, dalam Nasikh Al-Hadits wa Mansukhahu]: Hadits-hadits dalam masalah ini semuanya lemah.

    Sila klik: AFN

  8. mrblinc says:

    Hadits 8:

    “Sesiapa yang muntah [tidak sengaja] sedangkan dia dalam keadaan berpuasa tiada qadha baginya, dan sesiapa yang sengaja muntah maka hendaklah qadha”

    Diriwayatkan oleh: Ahmad dalam Al-Musnad [no. 10468], At-Tirmidzi [no. 720], Ibn Majah [no. 1676], Ad-Daraquthni [no. 20, 22] dan lain-lain.

    Status hadits: Didha’ifkan oleh jamaah imam huffaz hadits, antaranya Ahmad, Al-Bukhari, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ad-Daraquthni, Al-Baihaqi, Ad-Darimi.

    Sila klik: AFN

  9. mrblinc says:

    Hadits 9:

    “Berpuasalah kalian, nescaya kalian akan sihat.”

    Status hadits: Dinilai munkar oleh syaikh ‘Abdullah bin As-Sa’d, katanya: Isnadnya tidak sahih, bahkan ia munkar.

    Sila klik: AFN

  10. mrblinc says:

    Hadits 10:

    “Seandainya kaum muslimin tahu apa yang ada dalam bulan Ramadhan, nescaya umatku akan berangan-angan agar satu tahun Ramadhan seluruhnya. Sesungguhnya syurga dihiasi untuk Ramadhan dari awal tahun kepada tahun berikutnya…””

    Diriwayatkan oleh: Ibnu Khuzaimah [no. 886] dan Ibnu Al-Jauzi dalam Al-Maudhu’at [2/188-189]

    Status hadits: Dinilai tidak shahih oleh:

    * Ibnu Khuzaimah, katanya: Seandainya sahaja hadits ini shahih, kerana dalam qalbuku ada keraguan pada Jarir bin Ayyub Al-Bajali.

    * Ibnu Al-Jauzi, katanya: Palsu.

    Sila klik: AFN

  11. mrblinc says:

    Hadits 11:

    “Sesungguhnya Allah mengampunkan semua ahli qiblat ini (orang-orang Islam) pada awal malam Ramadhan.”

    Diriwayatkan oleh: Ibn Khuzaimah [3/189], Al-‘Uqailii dalam Adh-Dhu’afa [3/985].

    Status hadits: Didha’ifkan oleh:

    * Ibn Khuzaimah

    * Syaikh ‘Abdullah As-Sa’d, katanya: Hadith ini tidak shahih, bahkan munkar.

    Sila klik: AFN

  12. mrblinc says:

    Hadits 12:

    Doa pada malam Al-Qadr: “Allahumma innaka ‘afuwwun karim, tuhibbul ‘afwa, fa’fu’anni [Ya Allah! Sesungguhnya Engkau Maha pemberi ampunan yang mulia, suka memberi pengampunan, maka ampunilah diriku ini].”

    Diriwayatkan oleh: At-Tirmidzi.

    Status hadits: Di’ilalkan oleh Ad-Daraquthni, katanya: ‘Abdullah bin Buraidah tidak mendengar daripada ‘Aisyah.

    Sila klik: AFN

  13. mrblinc says:

    Hadits 13:

    Hadits fadhilat khusus solat tarawikh untuk setiap malam Ramadhan, antaranya: Malam 1: Keluar dosa-dosa orang mukmin pada malam pertama sepertimana ia baru dilahirkan, mendapat keampunan dari Allah. Malam 2: Diampunkan dosa-dosa orang mukmin yang sembahyang tarawih serta kedua ibubapanya (sekiranya mereka orang beriman).

    Status hadits: Hadits batil dan palsu. Hadits ini tidak di jumpai dalam mana-mana kitab hadits baik yang terkenal atau tidak, juga tidak pernah dinukilkan oleh orang-orang terdahulu, sebaliknya ia mula muncul pada zaman kita. Ia adalah hadits yang direkacipta pemalsu hadits abad moden, oleh itu hadits ini tiada asal bahkan batil dan palsu.

    Sila klik: AFN

  14. mrblinc says:

    Hadits 14 [a]:

    Doa berbuka puasa: “Allahumma Laka Shumtu wa ‘Alla Rizqika Aftartu [maksudnya: Ya Allah keranaMu aku berbuka puasa dan atas rezeki daripadaMu aku berbuka].”

    Status hadits: Dha’if (Mursal), hadits ini diriwayatkan daripada 4 sahabat dan kesemua jalurnya tidak lepas daripada kecacatan. Hadits ini di dha’ifkan oleh Abu Dawud [Al-Marasil, 203], An-Nawawi [Al-Majmu’, 6/632], Al-Haithami [Majma’ Az-Zawaid, 3/159], Ibn Qayyim [Zaad Al-Ma’ad, 2/49] dan lain-lain.

    Sila klik: AFN

    —————————————————————————————

    Hadits 14 [b]:

    Doa berbuka puasa: “Dzahaba azh-zhamau wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru Insya-Allah [Maksudnya: Telah hilanglah dahaga, telah basah kerongkongan / urat-urat, dan telah tetap ganjaran/pahala, Inysa allah].”

    Status hadits: Dha’if kerana gharabah sanad dan matannya, juga kerana jahalah rawinya. Hadits ini didha’ifkan oleh para huffaz, antaranya:

    * Ad-Daraquthni [385H] kerana tafarrudnya Al-Husain b. Waaqid.

    * Ibn Mandah [395H] kerana tafarrudnya Al-Husain b. Waaqid.

    Sila klik: AFN

    —————————————————————————————

    Hadits 14 [c]:

    Doa berbuka puasa: “Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kepadaMu dengan rahmatMu yang meliputi segala sesuatu, supaya memberi ampunan atasku.”

    Diriwayatkan oleh: Ibnu Majah [1/557]

    Status hadits: Didha’ifkan oleh Al-Albani [dalam Dha’if At-Targhib, 582]

    Sila klik: AFN

    —————————————————————————————

    Hadits 14 [d]:

    Doa Apabila Berbuka di Rumah Orang: “Semoga orang yang berpuasa berbuka di sisimu dan orang-orang yang baik makan makananmu, serta malaikat mendoakannya, agar kamu mendapat rahmat.”

    Diriwayatkan oleh: Abu Dawud [3/367], Ibnu Majah [1/556] dan An-Nasai [dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah, no. 296-298].

    Status hadits: Dha’if, kesemua jalurnya bermasalah. Didha’ifkan oleh An-Nasai, Abu Dawud, Ibn Hibban, Ibn Asakir, Al-Wadi’i dan lain-lain.

    Sila klik: AFN

  15. mrblinc says:

    Hadits 15:

    “Solat Jumaat di Madinah seperti seribu solat di tempat lain, dan puasa bulan Ramadhan di Madinah seperti puasa seribu bulan di tempat lain.”

    Diriwayatkan oleh: Ibnu Al-Jauzi [dalam Minhaju Al-Qashidin, 1/57/2], Ibnu An-Najjar [dalam Ad-Durar Ats-Tsaminah Fi Tarikh Al-Madinah, 337].

    Status hadits: Hadits batil, palsu. Terdapat 3 rawi yang dijarh sebagai pendusta, iaitu Katsir bin ‘Abdullah bin Amr bin ‘Auf, Al-Qasim bin ‘Abdullah Al-‘Amri Al-Madani, dan ‘Umar bin Abu Bakar Al-Mushili.

    Sila klik: AFN

  16. mrblinc says:

    Hadits 16:

    “Sesiapa yang melakukan ibadah wajib pada bulan ini pahala seperti melakukannya 70 kali pada bulan-bulan lain

    Diriwayatkan oleh: Ibn Khuzaimah [no. 1887], Al-Muhamili [dalam Amalinya, no. 293].

    Status hadits: Dha’if, didha’ifkan oleh Ibnu Khuzaimah sendiri, Abu Hatim, Al-‘Uqailii dan huffaz-huffaz lain.

    Sila klik: AFN

  17. mrblinc says:

    Hadits 17:

    Hadits Qudsi: Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: HambaKu yang paling Aku cintai adalah yang paling cepar berbuka puasa.”

    Diriwayatkan oleh: At-Tirmidzi [no. 700].

    Status hadits: Didha’ifkan oleh At-Tirmidzi, katanya: “Hasan gharib.”

    Sila klik: AFN

  18. mrblinc says:

    Hadits 18:

    “Sesiapa yang berbuka puasa satu hari pada bulan Ramadhan tanpa ada sebab dan tidak pula kerana sakit, maka puasa satu tahun pun tidak akan dapat mencukupinya walau pun ia berpuasa pada satu tahun tersebut.”

    Diriwayatkan oleh: Al-Bukhari secara mu’allaq [4/194], At-Tirmidzi [no. 723], Abu Dawud [no. 2396], Ibn Khuzaimah [no. 1988] dan lain-lain.

    Status hadits: Didha’ifkan oleh ramai huffaz, antaranya:

    * Al-Bukhari, beliau meriwayatkan hadits ini secara mu’allaq dengan sighah tamridh: “Dan diriwayatkan…”

    * At-Tirmidzi, katanya: Hadits Abu Hurairah, tidak kami ketahui, kecuali dari jalur ini. Aku mendengar Muhammad (Al-Bukhari) berkata, ‘Abu Al-Muthawwis namanya adalah Yazid bin Al-Muthawwis, aku tidak mengetahui daripadanya kecuali hadits ini.”

    * Ibnu Khuzaimah, katanya: Seandainya sahaja hadits ini shahih, Ibn Muthawwis dan ayahnya, tidak aku kenal.

    * Ibn ‘Abdi Al-Baar [At-Tamhid, 7/173], katanya: Ia hadits dha’if.

    Sila klik: AFN

  19. mrblinc says:

    Hadits 19:

    “Janganlah kalian sebut “Ramadhan”, sesungguhnya nama “Ramadhan” itu adalah satu nama daripada nama-nama Allah Ta’ala, sebaliknya sebutlah “Bulan Ramadhan [Syahr Ramadhan].”

    Diriwayatkan oleh: Ibn Adi [dalam Al-Kamil fi Dhua’afa, 7/53], Al-Baihaqi [dalam Al-Kubra, no. 7693] dan lain-lain.

    Status hadits: Syaikh Nadir An-Nathur (Jordan) menyebutkan bahawa ia terdapat banyak riwayat daripada ramai rawi seperti Abu Hurairah, ‘Abdullah ibn Umar, ‘Aisyah, ‘Ali, Mujahid, Hasan Al-Basri, kesemuanya tidak shahih, ia sama ada dha’if, dha’if jiddan, munkar, atau maudhu’. Hadits ini ditolak ahli hadits zaman berzaman.

    Sila klik: AFN

  20. mrblinc says:

    Hadits 20:

    Nabi pernah ditanya, “Puasa apa yang paling utama setelah Ramadhan?” Beliau menjawab, “(Puasa) Sya’ban untuk mengagungkan Ramadhan.” Beliau ditanya lagi, “Shadaqah manakah yang lebih utama?” Beliau menjawab, “Shadaqah di bulan Ramadhan.”

    Diriwayatkan oleh: At-Tirmidzi [1/129] dan lain-lain.

    Status hadits: Didha’ifkan oleh At-Tirmidzi, katanya: “Hadits ini gharib, dan Shadaqah bin Musa, menurut mereka (ahli hadits) tidak begitu kuat (haditsnya).”

    Sila klik: AFN

  21. mrblinc says:

    Hadits 21:

    “Jika datang malam pertama bulan Ramadhan, Allah melihat kepada makhlukNya, dan jika Allah telah melihat hambaNya, maka Allah tidak akan mengadzabnya untuk selamanya, di setiap malam dan Allah memiliki satu juta jiwa yang dibebaskan dari api neraka.”

    Diriwayatkan oleh: Ibnu Fanjuyah [dalam Majlis min Al-Amali Fi Fadhli Ramadhan, hadits terakhir] dan Abu Qasim Al-Ashbahani [dalam At-Targhib, Q 1/180]

    Status hadits: Maudhu’, Ibnu Al-Jauzi menyebutkan semua jalur hadits ini dalam Al-Maudhu’at [2/190], kemudian beliau berkata yang kesimpulannya hadits-hadits maudhu’, dalam sanadnya terdapat para periwayat yang majhul (tidak dikenal).

    Sila klik: AFN

  22. mrblinc says:

    Hadits 22:

    “Ketahuilah, aku khabarkan kepada kalian, bahawa malaikat yang paling utama adalah Jibril, Nabi yang paling utama adalah Adam, hari yang paling utama adalah hari Jumaat, bulan yang paling utama adalah bulan Ramadhan, malam yang paling utama adalah malam lailatul qadar, dan wanita yang paling utama adalah Maryam binti lmran.”

    Diriwayatkan oleh: At-Thabarani [no. 11361].

    Status hadits: Didha’ifkan oleh Al-Haithami [Majma’ 8/198].

    Sila klik: AFN

  23. mrblinc says:

    Hadits 23:

    “Pahala puasa bulan Ramadhan itu tergantung di antara langit dan bumi, dan tidak akan diangkat kepada Allah kecuali dengan zakat fitrah.”

    Diriwayatkan oleh: Al-Mundziri [dalam At-Targhib wa At-Tarhib, 2/97], Ad-Dailami [dalam Musnad Al-Firdaus, 1/235] dan lain-lain.

    Status hadits: Dha’if, kata Ibn Syahin: hadits gharib jiddan, kata Ibn Al-Jauzi: Padanya Muhammad bin Ubaid, dia majhul.

    Sila klik: AFN

  24. mrblinc says:

    Hadits 24:

    “Sesungguhnya di dalam syurga ada bilik-bilik nampak luarannya dari dalamnya dan dalamnya dari luarannya.” Kemudian seorang a’rabi bangun bertanya: “Untuk siapa ya Rasulallah?” Lalu Rasulallah S.A.W. berkata: “Untuk orang yang baik percakapannya, orang yang memberikan orang makan, orang yang selalu berpuasa dan orang yang solat malam sedangkan orang lain sedang tidur.”

    Diriwayatkan oleh: Ahmad dalam Al-Musnad [no. 1337], At-Tirmidzi [no. 1984, 2527], Ibn Khuzaimah [no. 2136, 2137], Ibn Adi dalam Al-Kamil fi Dhuafa’ [no. 509], Al-Ghazali dalam Ihya’ [no. 7].

    Status hadits: Dha’if. Didha’ifkan oleh:

    * At-Tirmidzi, katanya: Hadits gharib.

    * Ibn Khuzaimah: Pada hadis ini ada sesuatu.

    * Ibn Adi: Mungkar.

    * Al-‘Iraqi [dalam takhrij Al-Ihya’]: Dha’if.

    Sila klik: AFN

  25. mrblinc says:

    Hadits 25:

    Puasa adalah perisai daripada api neraka sepertimana perisai setiap daripada kamu daripada pembunuhan.

    Diriwayatkan oleh: Ahmad dalam Al-Musnad [no. 16317, 16322, 17933], Ibn Majah [no. 1639], An-Nasai [no. 2230, 2231, 2232] dan dalam Al-Kubra [no. 2539, 2540, 2541], At-Thabarani dalam Mu’jam Al-Kabir [no. 8360, 8362], Ibn Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf [no. 8891], Al-Mizzi dalam Tuhfatu Al-Asyraf [no. 9771].

    Status hadits: Tidak shahih daripada Nabi (Mursal). Berkata An-Nasai setelah mengeluarkan hadits ini daripada banyak jalan: “Mursal”. Juga berkata Al-Hafiz Al-Mizzi dalam Tuhfatu Al-Asyraf: “Mursal.”

    Sila klik: AFN

  26. mrblinc says:

    Hadits 26:

    Seorang lelaki telah datang kepada Rasulallah S.A.W. lalu berkata: Mataku sakit, bolehkah aku mengenakan celak sedangkan aku berpuasa? Rasulallah S.A.W. berkata : “Ya.”

    Diriwayatkan oleh: At-Tirmidzi [no. 726].

    Status hadits: Tidak shahih, kata At-Tirmidzi: “Sanadnya tidak kuat (laisa isnaduhu bi qawi) dan (hadis ini) tidak shahih daripada Nabi (wa la yasihhu).”

    Sila klik: AFN

  27. mrblinc says:

    Hadits 27:

    “Tiada Iktikaf kecuali pada masjid yg tiga.”

    Diriwayatkan oleh: Al-Baihaqi dan At-Thahawi [dalam Musykila Atsar].

    Status hadits: Tidak shahih secara marfu’ [ertinya tidak shahih sekiranya disandarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam] tetapi yang benar adalah mauquf kepada Hudzaifah [ertinya lafaz di atas sebenarnya kata-kata Hudzaifah] sebagaimana yang diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf.

    Sila klik: AFN

  28. mrblinc says:

    Hadits 28:

    “Puasa dan al-Quran akan memberi syafa’at bagi hamba pada hari Kiamat. Berkata Puasa, “Ya Tuhan, Engkau larang ia makan dan memuaskan syahwat di waktu siang dan sekarang ia meminta syafa’at padaku kerana itu. Dan berkata pula al-Quran: “Engkau larang ia tidur di waktu malam, sekarang ia meminta syafa’at padaku mengenai itu.” Maka syafa’at kedua-duanya diperkenankan oleh Allah.”

    Diriwayatkan oleh: Ahmad.

    Status hadits: Dha’if, didha’ifkan oleh Al-Bukhari.

    Sila klik: AFN

  29. mrblinc says:

    Hadits 29:

    “Sesiapa memberi perbukaan (makanan atau minuman) kepada orang yang berpuasa, maka dia akan mendapat pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa tersebut.”

    Diriwayatkan oleh: ‘Abdurrazzaq [7905], Al-Humaidi [818], Ahmad [4/114, 4/116, 5/192], Ad-Darimi [1709], At-Tirmidzi [818 – penomboran Syu’aib Al-Arnauth], Ibnu Majah [1746], An-Nasai dalam Al-Kubra, Ibnu Khuzaimah [2064], Ibnu Hibban [3429], At-Thabarani dalam Mu’jam Al-Kabir [5267-5269, 5273, 5275-5277] dan Al-Ausath [1052], dan Al-Baghawi [1818-1819].

    Status hadits: Dha’if, didha’ifkan oleh Ibn Al-Madini.

    Sila klik: AFN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s